Sabtu, 09 Januari 2016

ilustrasi

Hasil gambar untuk hujan Rain is Inspiration

ketika hujan menidurkanku dalam selimut yang membungkus tubuhku, aku mulai menyadarkan diri karena suara cucuran air hujan yang menyentuh jendela kamarku. kakiku secara perlahan berjalan menuju jendela untuk menatap hujan yang tampak belum reda dari beberapa jam yang lalu.  tanganku meraih payung berwarna keungungan bercampur pink, kakiku melangkah ke luar, aku hanya sekedar berjalan jalan tanpa adanya arah.
"wah... airnya dingin" sambil aku tatap ke atas dari bawah payung."rain is inspiration. bagiku hujan adalah kebahagiaanku, tiap kali aku menatap hujan, selalu ada sebuah cahaya yang membawa imajinasiku kemanapun aku ingin berkelana, akupun ingin kisah asmaraku berawal dari hujan. sungguh? aku selalu berbicara sendiri, inikah dunia indahku? jika bisa kumohon terjadilah" dan aku hela nafas sejenak menenangkan fikiranku.

"hey jenny" sebuah tangan merayu pundakku.
"eh, susan ngagetin aja!"
"ngomong sendiri sukanya kamu tuh"
"ah tau aja, mau kemana?"
"beli lilin, mati kan listrikya"
"emm... gitu, ya udah ati ati"
"iya jenny" susan meninggalkanku sendiri.

hari mulai larut tubuhku terasa lelah, kutatap air yang ada di pandanganku aku ingin menutup mataku sejenak dan merasakan dinginnya air hujan malam ini. langit hitam, hujan belum berhenti.
kucing yang melangkah menghindari air hujan  disebrang jalan, hatiku terasa berat saat melihat kucing itu yang tampak menggiigil kulangkahkan kakiku dan menjemput kucing itu, namun ketika ditengah jalan aku terkejut bukan main, mahluk besi itu melaju kencang hingga sesosok laki-laki yang menarik menariku kuat-kuat hingga aku terjatuh ketepi jalan bersamanya.

"apakah kau baik-baik saja?" sontak aku bertanya padanya
".........."matanya hanya tajam mengalihkan pandangannya padaku

"tak kau jawab pertanyaanku? maka cukup aku ucap terima kasih padamu"
"baiklah. apa yang ingin kau lakukan hingga tubuhmu begitu cepat tertarik melaju kesebrang jalan tanpa melihat kanan kiri mu?"lelaki ini mulai bertanya padaku
"aku hanya ingin meraih kucing manis ini"dengan aku raih kucing yang ada di bawahku
 lelaki itu mulai menjauihiku tanpa berpamitan padaku maka dengan rasa gengsiku akupun ikut menjauhinya dan menyebrang jalan ke rumahku








Senin, 09 November 2015

cuplikan cerpen

brak...brak...brak...
suara pecahnya lampu dan beberapa piring maupun gelas berturut turut terdengar keras dari lorong kamar sandra yang begitu sepi karena hanya sandralah yang dapat memasuki kamarnya bahkan ayahnya pun tak pernah memasukinya semenjak kepergian ibu sandra. tak dapat dimengerti apa yang terjadi, semenjak ibu sandra pergi semua berubah secara perlahan. ayahnya jarang pulang, sedangkan sandra bagai seonggok daging yang telah membusuk, sandra dengan wajah yang cantik rupawan menjadi dambaan para pria kini tak lagi seperti itu. di tambah ada beban yang membuat sandar hanya dapat diam tanpa berfikir dalam, karena sandra takut akan menjadi lebih sedih dengan segala beban yang membebaninya. beberapa waktu lalu ketika sandra sedang berjalan jalan dengan pacarnya dia melihat sosok ayahnya yang sedang ditemani dua wanita duduk berdampingan. ketika itu sandra makin kesakitan karena sandra merasa jika dirinya sangatlah berubah total semenjak kepergian ibunya. tak ada yang memperhatikannya, dan sandra bebas melakukan segala hal yang walaupun itu dosa jika dilakukan.
"aku terjebak" isakan tangis yang terdengar sangat keras hingga ke luar kamarnya,
"non kenapa ?"ketukan pintu yang terdengar dari tangan bibi salma, kepedulian bibi salma seperti ibunya maka dari itu sandra selalu berbagi cerita dengan bibi salma
"nggak bi nggak, jangan kesini bi, aku nggak sanggup untuk melihat orang."
"tapi non sandra belum makan sama sekali"
"nggak usah dipedulikan aku bi, aku menyakiti diriku karena akupun ingin sama sama merasakan sakitnya aku ingin menemani kesakitan ibuku, aku tau pasti dia kesakitan karena itu aku ingin sakit pula agar ibu tak menanggungnya sendiri. karena jika ia sakit aku pun juga harus sakit agar ia tak merasa sendiri."

Selasa, 11 Agustus 2015



UNSUR INTRINSIK
*      Judul       : Juru Masak
*      Tema      :  Bidang Keahlian
*      Setting    :
       a)    Tempat: Lareh Panjang, rumah mangkudun
       b)    Waktu:
-         Beberapa tahun lalu : ( Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamdji yang digelar dengan menyembilih tiga belas ekor kambing dan berlangsung tiga hari.)
-         Sejak dulu : ( Sejak dulu, Makaji tidak pernah keberatan membantu keluarga mana saja.)
-        Sekarang : ( Azrial kini sudah menjadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh empat anak buah yang tiap hari melayani pelanggan.)
-         Sejak ibunya meninggal : ( Sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah tidak ada yang merawat.)
-         Dua hari sebelum perhelatan berlangsung : ( Dua hari sebelum perhelatan berlangsung, Azrial putra dari makaji dating dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput makaji.)
c)     Suasana
-         Kacau : ( karena makaji tidak menjadi juru masaknya)
-         Kesal : ( Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, kenduri tak usah dilanjutkan!.)
-         Debat : ( “Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”
-         Sedih : ( Dengan berat hati Azrial harus melupakan Renggogeni.)
*      Tokoh dan Watak :
a)    . Makaji
-         Baik hati : ( Makaji tidak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta)
-         Pekerja keras : ( Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.)
-         Tanggung jawab : ( Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi, anak gadis Mangkudun dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.)
b)    Mangkudun
-         Sombong : ( Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!)
-          Keras kepala : ( Mangkudun benar-benar menepati janji Renggogeni , bahwa ia akan mencarikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya.)
c)     Azrial

-         Baik hati : ( Bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.)
-         Pendendam : ( Dengan maksud mengacaukan perhelatan  Mangkudun, Makaji diboyong ke Jakarta oleh Azrial.)
-         Pekerja keras : ( Awalnya ia hanya tukang cuci piting di rumah makan milik seorang perantau, kini Azrial sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh empat anak buah.)
d)     Renggogeni
-         Baik hati : ( Dia laki-laki taat, jujur, dan bertanggung jawab.)
-         Pintar : ( Tidak banyak orang Lereh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni.)
-         Penurut : ( Karena menuruti kemauan Ayahnya untuk di jodohkan.)
*      Alur: Campuran
*      Sudut Pandang: orang ketiga serba tahu
*      Amanat:
-         Jangan mempunyai rasa dendam kepada siapapun karena tak akan ada ujungnya
-         Jaga, hormati, dan lindungi orangtua kita.
-         Kunci kesuksesan yaitu adanya kerja keras
-         jangan memiliki perasaan sombong


UNSUR EKSTRINSIK
*      Nilai Sosial: Makaji tidak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak       menggelar pesta
*      Nilai Budaya: Dengan adanya khas budaya dari Lareh Panjang yaitu berupa makanan seperti : Gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung,  adanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lereh Panjang, dan adanya pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinana
*      Nilai Moral:
Buruk : “Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masal!”.
Baik : “ Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.”)